Mau tidak mau, harus diakui bahwa jalan raya: tempat lalu lintas kendaraan bermesin telah menjadi lokasi kematian manusia paling intens saat ini. Setiap pengguna jalan raya itu dibuat was-was oleh peluang ketidakhati-hatian yang dilakukan pengguna lain.

Sepersekian menit dan bahkan detik sesosok manusia yang mulanya tegak berdiri akan berubah menjadi mayat yang kaku. Sebab itu, jalan raya yang merupakan jalur terpenting dalam mobilitas kehidupan manusia menjadi horor psikologis. Turun ke jalan raya berarti siap untuk menyongsong dan disongsong kematian.

Meski demikian, belum banyak orang yang menyadari hal ini. Ketidakpedulian akan keselamatan orang lain yang dilakukan oleh pengendara yang kebut-kebutan seringkali terjadi. Bila Anda mengendarai sepeda motor atau mobil dalam rentang waktu jam 6 pagi hingga paling lama jam 9 pagi, secara gamblang akan terlihat bagaimana orang-orang terburu-buru melewati jalan raya yang riuh. Berada di atas kendaraan dengan kecepatan tinggi seakan ingin terbang mendahului yang lain.

Dalam kondisi terburu-buru seperti itu, kematian kadang juga datang memburu jiwa-jiwa yang malang. Hal ini sekali lagi ingin menggambarkan rentannya kematian di atas jalan raya. Horor kematian tersebut perlu disikapi secara serius.

Pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengatasinya adalah semua pengguna jalan raya. Akan tetapi, sebuah pemahaman tentang cara kerja teknologi yang memotori semua kendaraan yang digunakan manusia dalam melintasi area jalan raya umum sangat penting. Karena semua kendaraan yang melintas dengan tak henti-hentinya di jalan raya itu adalah bagian dari hasil kerja teknologi.

Teknologi
Penyalahgunaan teknologi yang kerap terjadi zaman ini didasari oleh kesalahpahaman atas teknologi itu sendiri. Teknologi seringkali diidentikkan sebagai alat (tools). Ketika melihat teknologi hanya sebatas sebagai alat belaka, konsentrasi pengembangan SDM berwawasan teknologi dan industri kemudian ditekankan secara berlebihan kepada bidang-bidang keteknikan (Yudi Latif: 2009).

Kecenderungan reduksionistik inilah yang membuat orang sebebas-bebasnya menggunakan areal jalan raya umum. Orang melupakan manusia sebagai unsur terpenting dari teknologi.

Wawasan keteknologian hanya terbatas pada penggunaan secara tak bertanggung jawab alat-alat teknologi. Padahal, The Asian and Pacific Centre for Transfer of Technology (APCTT) sebagaimana dikutip Yudi Latif, merumuskan setidak-tidaknya ada empat komponen teknologi yakni technoware (unsur perangkat keras); infoware (unsur informasi); humanware (unsur sumber daya manusia); dan organware (unsur manajemen dan lingkungan sosial).

Orang cenderung hanya melihat teknologi semata-mata sebagai perangkat keras yang memudahkannya dalam menjalankan kerja harian. Kelupaan manusia atas ketiga unsur teknologi yang lain terlebih unsur sumber daya manusia merupakan sumbangan terbesar bagi perilaku tak bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi itu.

Wujud nyata dari keterbatasan wawasan tentang teknologi ini adalah absennya tanggung jawab etis seseorang atas keselamatan orang lain di jalan raya. Kecelakaan lalu lintas yang seringkali terjadi di segala tempat di wilayah Indonesia dan NTT khususnya menjadi sinyal yang perlu disadari oleh semua pihak akan pentingnya memperluas pemahaman tentang teknologi.

Walaupun setiap persoalan kecelakaan transportasi tidak hanya terbatas pada hal-hal yang nampak di depan mata. Persoalan struktural menyangkut birokrasi juga memainkan peran penting. Hanya saja, yang lebih urgen untuk diperjuangkan adalah penyebaran pemahaman atas teknologi kepada masyarakat umum. Bahwa teknologi itu mesti digunakan untuk memuliakan manusia.

Ada etika yang mengatur lalu lintas jalan raya demi keselamatan manusia. Melalui etika itu, orang menjadi peduli dengan semua pengguna jalan raya yang lain. Orang harus peduli bahwa orang lain juga mendambakan kenyamanan saat melintasi jalan raya.

Menghapus Horor Kematian
Sebuah keteraturan serta ketertiban berkendara di jalan raya menjadi muara dari pemahaman yang baik atas cara kerja teknologi. Sebagaimana terungkap di atas, keselamatan manusia menjadi hal yang utama dari sistem kerja alat-alat teknologi. Dan sistem itu dituntun oleh kesadaran akan posisi sentral manusia dalam cara kerja teknologi.

Dalam mengoperasikan sebuah alat teknologi, sebagaimana disarankan Johan Galtung, dibutuhkan struktur perilaku tertentu dari manusia. Alat-alat teknologi tidak beroperasi dalam ruang vakum. Alat-alat itu adalah hasil buatan manusia dan digunakan pula oleh manusia. Karena itu, diperlukan pengelolaan sosial tertentu.

Tabiat baru yang diharapkan untuk mewujudkan sikap peduli satu sama lain di jalan raya akan menghapus horor kematian. Tabiat itu muncul dari wawasan yang luas mengenai teknologi. Relevansi etika kepedulian pun menjadi semakin ekstensif.

Dengan kepedulian manusia itu, teknologi yang disusun dari besi-besi serta komponen metal yang lain dapat menunjang keselamatan hidup manusia dalam segala situasi dan tempat.

Dengan demikian, sebuah ide tentang pengembangan teknologi yang semakin manusiawi dapat diwujudkan mulai dari sekarang. Teknologi pun tidak akan dianggap sebagai algojo kejam di jalan raya. Oleh karena itu, dengan memahami teknologi paling kurang seperti yang dijelaskan di atas, kematian di jalan raya dapat dihindari. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *